Tuesday, May 31, 2005

"Garin Nugroho: Oleh-Oleh Menyedihkan" - Kompas Cyber Media, Jakarta


48th sfiff
Originally uploaded by yasmin the storyteller.
Sutradara kenamaan Tanah Air Garin Nugroho membawa oleh-oleh dari ajang San Fransisco International Film Festival (SFIFF) ke-48, awal Mei lalu. Tapi, tunggu, oleh-oleh yang dimaksud bukanlah dalam arti sesungguhnya.

Kali ini oleh-oleh yang dibawa Garin berupa sesuatu yang menyedihkan bagi kita--soal nasib perfilman Tanah Air, yang belakangan memerlihatkan geliatnya. Hadirnya film-film garapan anak negeri bolehlah membahagiakan, namun tak ditunjang dengan ide-ide baru yang memuaskan.

Jika boleh jujur, kata Garin, ia melihat film-film karya sutradara Malaysia yang diputar di SFIFF sangatlah menonjol. "Film-film karya sutradara Malaysia tidak berkompromi dengan penonton. Mereka lebih berani dalam menyajikan tema-tema baru yang lebih beragam," tutur Garin, saat dijumpai di acara pemutaran perdana film Lovely Luna, di Planet Hollwood 21, Jakarta, Selasa lalu (24/5).

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang di Indonesia belakangan ini. Banyak cerita yang mirip kisah dalam film-film 1980-an, namun dengan kemasan masa kini. Itulah yang membedakan film-film Indonesia sekarang dengan lima film Malaysia yang diputar di SFIFF, yaitu The Gravel Road, Monday Morning Glory, Sepet, Tokyo Magic Hour, dan Putri Gunung Ledang. Film terakhir ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris kenamaan Tanah Air, yaitu Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Alex Komang, dan Dian Sastro

"Sebenarnya dari segi kemasan dan keterampilan, film-film Indonesia bolehlah unggul. Tapi, dari segi keseniannya kita tertinggal," komentarnya.

Rindu Kami PadaMu (Of Love and Egg) garapannya menjadi satu-satunya film Indonesia yang dipertontonkan di SFIFF, meski tidak turut dalam kompetisi.

Sepet, arahan sutradara Malayasia Yasmin Ahmad, rupanya cukup menarik hati sutradara Daun di Atas Bantal ini. "Film ini mengangkat kisah asmara antara pemuda Cina dengan pemudi Malaysia atau ada juga film yang mengangkat isu terorisme," ujarnya.

Garin sendiri sepertinya kian terpacu untuk kembali mengarap film. Saat ini, ia bersama tiga sutradara lainnya, yakni Toni Trimarsanto, Lianto Luseno, dan Vivawesti tengah membidani sebuah film tentang Aceh berjudul Serambi. "Sekarang masuk proses editing. Rencananya tanggal 19 Agustus akan dirilis," terangnya.

Setelah itu, ia akan berkonsentrasi menggarap film lainnya yang diberi judul Opera Jawa. Syutingnya akan dimulai November nanti. "Film ini dibuat dalam rangka peringatan 250 tahun (komponis) Mozart," katanya seperti dikutip oleh Antara, Rabu (25/5).